Politik

Sort By:

Rp 50.000
Rp 40.000Rp 40.000

Cahaya Kebangkitan dari Negeri Anbiya 

Kematangan Politik Ikhwanul Muslimin Mengantarkan Mursi Presiden Pilihan Rakyat.

Detail 

Judul  : Cahaya Kebangkitan dari Negeri Anbiya
Penulis  : Abu Ghozzah
Penerbit  : Maktaba Gaza
ISBN  : 978-602-97359-6-3
Cetakan  : Pertama, Agustus 2012
Halaman  : 184 halaman
Ukuran  : 13.5 x 20 cm
Harga  : Rp 50,000 | Diskon 20%

Sinopsis

 

Syukur alhamdulillah, rangkaian sejarah dakwah ilallah SWT di bumi para Anbiya’, Negeri Kinanah, yaitu Republik Arab Mesir menuju kebangkitannya. Revolusi anak negeri itu telah menorehkan prestasi besar dengan terpilihnya presiden dari kalangan sipil pertama kali, presiden yang lahir dari rahim revolusi, DR. Muhammad Mursi.

Dengan terpilihnya Dr. Mursi berarti tuntutan revolusi akan terus berlanjut, karena revolusi lahir untuk menyudahi pemerintahan tiran, korup dan penyebab kerusakan di segala lini kehidupan. Angin segar perubahan itu terus menggelinding sampai pada akhirnya Islam mewujud dalam institusi resmi di eksekutif, yudikatif juga legislatif.

Kemenangan revolusi itu melalui jalan panjang, berliku dan penuh jebakan. Banyak sekali manuver, bergumulan, bergulatan yang dimainkan oleh musuh-musuh revolusi dalam upaya membungkam laju revolusi namun bisa disikapi dengan kepala dingin (Kematangan Politik Ikhwanul Muslimin).

Satu hari sebelum Panitia Penyelenggara Pilpres mengumumkan hasil final, militer mengerahkan tank-tank, panser-panser dan pasukan disiap-siagakan di tempat-tempat vital. Militer ketika itu mengatakan siapa yang tidak menerima hasil final pilpres akan ditindak dengan tegas. Menanggapi hal itu, syaikh Jum’ah Amin salah satu tokoh Ikhwan dengan tenang mengatakan: “Waallahu yaf’alu maa yasyaa’. Allah berbuat sesuai kehendak-Nya.”

Komentar singkat, namun menunjukkan keyakinan yang mendalam terhadap ketentuan dan kemenangan dari Allah swt.

Lain lagi komentar salah satu masyayikh Mesir yang berdomisili di Malaysia yang disampaikan kepada penulis, “Kemenangan demi kemenangan yang di raih Ikhwan di Mesir menunjukkan keberkahan berjamaah dan keberkahan syura.”

Unik yang terjadi di Mesir, Presiden Mursi dilantik tanpa ada parlemen dan lembaga permusyawaratan, karena kedua lembaga ini dibubarkan oleh militer, padahal keduanya produk pemilu langsung pilihan rakyat. Presiden Mursi dilantik dengan wewenang dan kekuasaan yang dibatasi oleh “dustur mukammil” produk militer.

Kondisi yang demikian tidak membuat Presiden Mursi gusar. Beliau bekerja dalam diam. Beliau tidak ingin membuat jurang konfrontasi yang diciptakan lawan-lawan revolusi menjadi menganga lebar. Beliau berkomunikasi dan menjalin hubungan dekat dengan semua lembaga negara dan semua kelompok anak negeri. Beliau tunjukkan keseriusan janjinya bahwa dirinya adalah pelayan rakyat, bahwa dirinya adalah presiden bagi semua rakyat Mesir, bukan seperti yang dituduhkan lawan-lawan politik beliau yang menyatakan bahwa Mursi hanya akan menghambat kemajuan, modernitas, sektarian, tidak independen.

Beliau menggencarkan program 100 hari yang berorientasi langsung pada kebutuhan dan hajat rakyat, yaitu keamanan, roti, BBM, kemacetan dan sampah. Presiden Mursi mampu mengedukasi rakyat untuk mensukseskan program 100 hari tersebut. Beliau instruksikan pada gubernur dan wali kota untuk turun menemui warga, menyerap aspirasi mereka dan bekerja bersama dengan mereka. Gerakan “Negeri Bersih” dari sampah sekarang ini menjadi issu bersama antara pemerintah pusat, propinsi, kota dan semua warga negara Mesir. Masyarakat Mesir saling berlomba menunjukkan lingkungannya paling bersih.

Tudingan lawan-lawan politik presiden Mursi terbantahkan dengan aksi dan kerja nyata presiden yang pro rakyat.

Peran masyarakat madani pun sangat signifikan dalam mencerdaskan rakyat. Institusi Al-Azhar Asy-Syarif, Hai’ah Kibar Ulama, organisasi-organisasi massa Islam, termasuk juga organisasi pemuda revolusi terus mengawal revolusi. Dan IM mampu bekerja sama dengan baik bersama mereka.

Buku ini berusaha merekam perjuangan politik Jamaah Ikhwanul Muslimin juga sayap politiknya Hizbul Hurriyah wal ‘Adalah atau Freedom And Justice Party yang merupakan satu kesatuan dalam pentas pilpres Mesir 2012.

Buku ini dibagi menjadi beberapa bab besar;

  • Pertama, Kematangan Politik IM. 
  • Kedua, Proyek Kebangkitan dan Dukungan Kekuatan Politik Terhadap Capres IM. 
  • Ketiga, Profil Presiden Mursi dan Dukungan Keluarganya. 
  • Keempat, Program 100 Hari dan Gebrakan Presiden Mursi. 
  • Kelima, Babak Baru Hubungan Luar Negeri Mesir. 
  • Keenam, Manuver Cantik Mursi dalam Sorotan Media Massa Asing. 
  • Ketujuh, Demam Mursi Mewarnai Media Massa Indonesia. 
  • Kedelapan, Fatwa-Fatwa Pemilu. 
  • Kesembilan, Taujihat Qiyadah dalam Meriayah Kader dan Membentuk Opini Masyarakat. 
  • Kesepuluh, Kabinet Baru dan Era Baru Mesir.

Buku ini merupakan lanjutan dari buku sebelumnya; “Musim Semi Revolusi Dunia Arab, Success Story Partai Kebebasan dan Keadilan, Sayap Politik Jamaah Ikhwanul Muslimin” yang telah merekam keberhasilan perjuangan IM dalam pemilu parlemen dengan meraih dukungan signifikan, 47% kursi suara.

Sub judul buku ini “Kematangan Politik Ikhwanul Muslimin Mengantarkan Mursi Presiden Pilihan Rakyat” bukan untuk memprovokasi pembaca berdebat soal aqidah. Penulis yakin bahwa kita semua paham dengan ayat Al-Qur’an yang sering menjadi wirid pagi dan petang: “Katakanlah! Allah pemilik kerajaan. Allah memberi kekuasaan kepada orang yang dikehendaki dan mencabut kekuasaan dari orang yang dikehendaki-Nya…” termasuk kepada presiden Mursi. Dirinya menjadi presiden adalah suratan takdir Allah. Namun, penulis ingin menggambarkan bagaimana provokasi, upaya-upaya yang dilakukan oleh musuh-musuh revolusi untuk membungkam dan menggagalkan revolusi demikian jahat. Dengan kearifan dan kematangan politik Ikhwan, makar-makar tersebut bisa ditaklukkan.

Secara fisik buku ini berukuran 13.5 x 20 cm, tebal 184 halaman, kertas hvs 70 grm, laminating doft, bending lem. Konten buku disertai galeri foto aktivitas kampanye sampai kerja-kerja presiden Mursi.

Semoga rekam sejarah perjuangan gerakan Islam terbesar di dunia ini, mampu memberi inspirasi bagi para pejuang dakwah di manapun mereka berada.

Dari Soekarno Hingga Yudhoyono : Pemilu Indonesia 1955 - 2009

Detail

Judul  : Dari Soekarno Hingga Yudhoyono : Pemilu Indonesia
Penulis  : Widjanarko Puspoyo
Penerbit  : » Era Intermedia
Isi  : -
ISBN : 9786028237970
Ukuran         : 16 x 25 x 2 cm

Sinopsis

“Buku karya Widjanarko Puspoyo yang berjudul “Dari Soekarno Hingga Yudhoyono: Pemilu Indonesia 1955—2009 adalah hamparan sejarah politik kita. Belajar darinya, akan menghindarkan Indonesia dari defektif demokrasi.”

Prof. Dr. H. M. Din Syamsuddin, M.A., Ketua Umum PP Muhammadiyah

 

“Dengan membaca buku yang ditulis Widjanarko Puspoyo ini tentunya akan sangat memberikan manfaat sebagai gambaran pembelajaran bagi kita semua generasi sekarang dan yang akan datang.”

Prof. Dr. Said Aqil Siradj, M.A., Ketua Umum PBNU

 

“Buku ini sangat bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi mendatang, khususnya dalam kehidupan berdemokrasi.”

Kwik Kian Gie,

Mantan Menko Ekuin, Menteri PPN/Ketua Bapennas

 

“Buku ini memaparkan dinamika kegigihan, perjuangan, dan keuletan bangsa Indonesia membangun peradaban politik untuk mewujudkan kehidupan politik yang demokratis. Karena itu, layak dibaca para politisi dan kader partai, dari Sabang hingga Merauke.”

Dr. J. Kristiadi, Peneliti Senior, Center for Strategic and International Studies, CSIS

 

“Buku ini penting untuk menelusuri rajutan historis dan ideologis secara implisit, termasuk kehancuran ideologis yang merangsek di tubuh partai-partai politik dan praksis pemilu.”

Tjahjo Kumolo, S.H., Sekjen DPP-PDI Perjuangan, Periode 2010—2015

 

“Buku ini tak berlebihan jika layak dibaca bagi para elite partai, penyelenggara negara, anggota parlemen, peneliti, wartawan, dan mahasiswa.”

Kusnanto Anggoro, Ph.D., Peneliti dan Dosen Pascasarjana, FISIP-UI

 

“Buku ini bermanfaat bagi pendalaman sejarah politik Indonesia, terutama berkaitan dengan partai politik dan pemilu, sekaligus memperkaya khazanah perbukuan di Indonesia.”

Prof. Dr. H. Bomer Pasaribu, S.H., S.E., M.S., Guru Besar IPB Bogor dan USU Medan, Mantan Menteri Tenaga Kerja

 

Buku Dilema PKS: Suara dan Syariah; Burhanuddin Muhtadi

Penulis   : Burhanuddin Muhtadi
ISBN : 9789799104380
KPG : 901120532
Ukuran : 230 x 150 mm
Tebal : 335 Halaman
Harga  : 70.000

Sinopsis :

Buku dilema PKS, Suara dan Syariah by burhanuddin muhtadi yang terbit maret 2012 ini kini booming di kalangan aktivis politik apalagi kader PKS. sebenarnya buku dilema pks ini merupakan tesis S2 bang burhan di ANU, Aussy.

Buku dilema PKS sepenuhnya mengupas tentang PKS yang memadukan antara Islam dan demokrasi serta kontemplasi antara gerakan sosial dan politik. Buku ini sudah di cetak kedua kalinya, dimana cetakan pertama laris manis sebelum di publikasi. Berkaitan dengan berita PKS yang saat ini tengah booming di media, buku ini makin ramai di cari. kabarnya Anis matta juga pesan khusus buku ini dalam jumlah yang besar.

Berikut ini beberapa komentar terhadap Buku dilema pks:

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) merupakan fenomena dalam perpolitikan Indonesia. Tanpa mengandalkan tokoh maupun dukungan organisasi besar, PKS sukses menjadi partai yang mendapat suara keempat terbanyak pada Pemilu 2009. Tak seperti partai lain, PKS membina kader dan simpatisannya terus-menerus melalui berbagai aksi kolektif. PKS juga mencoba menjangkau semua kalangan dengan menyatakan diri sebagai partai terbuka. Namun langkah itu juga me nimbulkan kontroversi dan dilema di dalam PKS sendiri: antara teguh di jalur ideo logis dan membuka diri bagi siapa saja.

Buku ini, yang diolah dari tesis Burhanuddin Muhtadi di Australian National University, memotret fenomena PKS dari sudut pandang keilmuan, mulai dari asal-usulnya sebagai Jamaah Tarbiyah pada masa Orde Baru, pe ngaruh ideologis dari Ikhwanul Muslimin Mesir, pendirian Partai Keadilan pada awal Reformasi, sampai dinamika internal antara berbagai aspirasi dalam PKS. Juga dibahas mengenai strategi PKS memperjuangkan agenda politik Islamis-nya di panggung politik Indonesia.

“Buku ini paling menarik dibanding buku-buku lain tentang PKS karena posisi Burhanuddin Muhtadi terhadap PKS sebagai outsider dan insider sekaligus, dan menggunakan teori-teori gerakan sosial sebagai pendekatan dalam menganalisa perjalanan sejarah PKS sekaligus tantangan masa depannya.”

—ANIS MATTA

Sekretaris Jenderal DPP PKS dan Wakil Ketua DPR RI 2009–2014

 

“Sejauh pengamatan saya, belum ada satu pun buku yang membahas kemunculan dan perkembangan PKS secara serius dengan metode protest-event analysis untuk mengkaji aksi-aksi demonstrasi PKS. Buku Burhanuddin Muhtadi ini dapat menutup kekurangan tersebut. Baik dari sisi metodologi maupun sintesa pendekatan dengan menggunakan teori gerakan sosial, buku ini merupakan terobosan penting dalam diskursus akademik tentang PKS dan gerakan Islamis di Indonesia.”

—PROF. DR. KOMARUDDIN HIDAYAT

Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

“Buku ini memberikan sumbangan intelektual yang berharga dalam diskursus tentang PKS dan gerakan Islamisme. Saya dengan senang hati merekomendasikan untuk dibaca.”

—PROF. GREG FEALY

Department of Political and Social Change, The Australian National University (ANU)

ERDOGAN

Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki

Detail

Judul  : ERDOGAN : Muadzin Istanbul Penakluk Sekularisme Turki 
Penulis  : Syarif Taghian
Penerbit  : Pustaka Al-Kautsar
Isi : 536 Halaman
ISBN : 978-979-592-5972
Ukuran : 15.5 x 24.5 cm

Sinopsis

Recep Tayyip Erdogan adalah politisi yang dijuluki sebagai "Muadzin Istanbul Penumbang Sekularisme Turki". Erdogan mampu mengembalikan masa keemasan Turki, setelah sebelumnya terjerat dalam gurita sekularisme dan otoritarianisme yang memarginalkan Islam dan menjerumuskan negeri yang indah ini ke dalam kegelapan. 

Dengan kepiawaiannya berpolitik, Erdogan mampu meyakinkan rakyatnya bahwa dengan identitas Islam, Turki bisa mengembalikan kejayaan Kekhilafahan Utsmani, kekhilafahan yang tidak hanya kuat dalam segi pertahanan, tapi juga dalam perekonomian. Dengan keyakinan bahwa "Islam adalah Solusi" (Al-Islam huwa Al-Hall), Erdogan yang dibesarkan dalam lingkungan keislaman, mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan "the Sick Man in Europe" menjadi negara yang sehat dan tumbuh berkembang, bahkan diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan perdamaian.

Dengan kesantunannya, Erdogan mampu menumbangkan "berhala sekularisme Attaturk" tanpa melakukan kudeta dan melesatkan peluru sebutir pun. Sekularisme yang disucikan oleh militer, dan dijaga oleh kekuatan senjata, mampu ditumbangkan dengan 'kudeta tanpa senjata' oleh Erdogan. Keraguan kelompok sekular Turki yang menyebut Erdogan sebagai sosok "islamis reaksioner" dijawab olehnya dengan kerja nyata dalam mensejahterakan rakyat Turki dan menjadikan negaranya sebagai kekuatan penyeimbang dalam kancah globalisasi. Erdogan mampu membawa Turki menjadi negara dengan stabilitas ekonomi yang kuat, mandiri, dan mampu bersaing di dunia internasional.

Erdogan adalah contoh politisi dan pemimpin yang tidak larut dalam kekuasaan, sehingga melupakan identitas keislamannya. Jejak rekamnya dalam membela kaum muslimin yang tertindas, terutama di Palestina, sudah tidak diragukan lagi. Ketika kekuasaan sudah di tangan, maka tak ada alasan untuk tidak berkhidmat pada Islam. Inilah teladan dari sosok Erdogan

Buku biografi Erdogan ini bisa menjadi cermin dan teladan bagi politisi, aktivis, dan mereka yang berjuang untuk kemaslahatan. Sayang jika Anda lewatkan!

Rp 25.000
Rp 20.000Rp 20.000

Fiqih Politik Hasan Al-Banna

Detail

Judul  : Fiqih Politik hasan Al Banna
Penulis  : Muhith Muhammad Ishaq
Penerbit  : » Robbani Press
Isi : -
ISBN : 979-3305-073
Ukuran        : 11,5 x 17,5 cm 

Sinopsis

Politik adalah salah satu cabang kehidupan yang mesti kita terjun didalamnya. kenapa tidak? karena dalam berbagai bentuk perubahan, merebut kepemimpinan politik memiliki sebuah posisi yang strategis dalam membentuk ummat yang lebih baik. sama ketika rasulullah saw memimpin madinah, dengan rakyat multi budaya dari quraisy dan yang lainnya. kepemimpinan 

politik yang diakui akan menjadi salah satu titik tolak yang sangat baik dalam perkembangan kebijakan kebijakan yang Allah ridhai...

sebagai gambaran saja, ketika ada orang sholeh yang melakukan kebaikan, maka mungkin kebaikannya ini akan berdampak pada orang-orang disekitarnya saja. akan tetapi ketika seorang presiden melakukan kebaikan, maka hal ini bisa sangat berdampak bagi seluruh rakyat yang dipimpinnya..

politik berarti bagaimana caranya kita menyikapi dan mempengaruhi sesuatu yang ada di sekeliling kita. memahami fiqihnya, berarti mencoba melakukan segala muamalah di sekeliling kita dengan hak hak Allah

Buku “LANGKAH CINTA UNTUK INDONESIA”
Penulis: Tim FP
Tebal 243 halaman. Ukuran 21 x 15 cm
LANGKAH CINTA UNTUK INDONESIA memaparkan kiprah perjuangan Ustadzah Yoyoh Yusroh dalam mengusung agenda-agenda ummat di lembaga legislatif dan juga pengabdiannya yang total di tengah-tengah masyarakat. Pengakuan para tokoh bersanding dengan harapan besar para kolega turut mengiringi langkah cinta Ustadzah Yoyoh Yusroh untuk kemajuan Indonesia. Demi Indonesia yang bermartabat, dunia dan akhirat.
dan

Buku “LANGKAH CINTA UNTUK KELUARGA”
Penulis: Tim FP
Tebal 114 halaman. Ukuran 21 x 15 cm
LANGKAH CINTA UNTUK KELUARGA berisikan kisah-kisah teladan Ustadzah Yoyoh Yusroh dan perjuangannya merealisasikan visi keluarga dakwah yang selama ini diembannya. Bagi Ustadzah Yoyoh Yusroh, membesarkan ketigabelas anaknya tidaklah sekedar mengantarkan mereka ke gerbang kampus, tetapi hingga gerbang Syurga kelak. Penuturan polos putra-putrinya dan suka-duka dalam keseharian juga tak lupa termuat di dalamnya, tentu dengan berbagai ibroh yang dapat dipetik, menjadi inspirasi tersendiri bagi pembaca.

(Dua buku dalam satu paket) Dengan harga Rp 99.000
Seluruh keuntungan akan digunakan untuk Yayasan Ummu Habibah dan dakwah.
Rp 70.000
Rp 56.000Rp 56.000

Wajah Politik Muawiyah Bin Abu Sufyan

Bonus Langsung senilai Rp 125.000 "DVD FILM OMAR"

Detail

Judul  : Wajah Politik Muawiyah Bin Abu Sufyan
Penulis  : Hepi Andi Bastoni
Penerbit  : Pustaka al-Bustan
Isi : 298 Halaman
ISBN : 978-979-1324-076
Ukuran       : 13,5 x 20,5 cm

Sinopsis

Muawiyah dan Sejarah Konflik Sunni-Syiah

Muawiyah

bin Abu Sufyan adalah satu di antara ribuan sahabat Nabi Muhammad SAW yang paling kontroversial. Muawiyah lahir dari kedua orangtua yang sebelumnya sangat memusuhi Islam, yaitu Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti Utbah. Sikapnya terhadap Khalifah Ali bin Abi Thalib, dianggap makar dan tergolong bughat (pemberontak). Tindakan Muawiyah mengangkat putranya Yazid sebagai khalifah, dituding telah menciptakan sistem baru yang tak pernah ada sebelumnya.

Di sisi lain, jasa Muawiyah tak bisa dipungkiri. Pencatat wahyu ini tak hanya mampu mengakhiri konflik antar kaum Muslimin di masanya, tapi juga berhasil menancapkan pondasi sebuah dinasti yang telah memberikan begitu besar jasanya bagi dunia Islam: Dinasti Umayyah.

Maka, sosok Muawiyah pun mendapat banyak sorotan. Di satu sisi, ada yang membencinya habis-habisan. Berbagai julukan ditabalkan. Ia disebut licik, culas, musang berbulu domba dan pengkhianat!

Di satu pihak, kita justru menemukan banyak ‘nash’ tentang keutamaan Muawiyah sahabat Nabi SAW ini. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tentara dari umatku yang mula-mula berperang mengarungi lautan sudah pasti mendapat surga,” (HR Bukhari dan Muslim). Dan, Muawiyah adalah pemimpin armada angkatan laut umat Islam pertama di masa pemerintahan Utsman bin Affan.

Ketika mengangkatnya sebagai gubernur Syam, Umar bin Khaththab berkata, “Janganlah kalian menyebut Muawiyah kecuali dengan kebaikan.”

Saat ditanya tentang mana yang lebih utama antara Muawiyah dan Umar bin Abdul Aziz, Abdullah bin Mubarak menjawab, “Demi Allah, debu yang berada di lubang hidung Muawiyah karena berjihad bersama Rasulullah saw, lebih baik daripada Umar bin Abdul Aziz!”

Nah, buku ini menguak kontroversi itu yang dianggap akar sejarah konflik antara sunni dan syiah.

Resensi Buku Wajah Poliktik Muawiyah bin Abu Sufyan

Mengapa sosok Muawiyah ini menarik untuk dibahas? Paling tidak ada tiga alasan. Pertama, dalam bentangan sejarah Islam, Muawiyah bin Abu Sufyan merupakan tokoh yang lahir dari kedua orang yang ditokohkan juga: Abu Sufyan bin Harb dan Hindun binti Utbah. Ini yang membuat nama Muawiyah melejit dalam kajian sejarah Islam. Apalagi kedua orangtuanya terbilang tokoh yang begitu gigih memerangi Nabi saw sebelum keduanya masuk Islam pada peristiwa Fathu Makkah.

Kedua, tak ada yang bisa mengelak, jasa Muawiyah bin Abu Sufyan bagi peradaban Islam begitu besar. Ia tak hanya mampu mengakhiri berbagai konflik yang terus bergelora antar kaum Muslimin di masanya, tapi juga berhasil menancapkan pondasi bangunan peradaban Islam. Dialah peletak dasar Daulah Umayah. Sebuah dinasti yang telah memberikan begitu besar jasanya bagi dunia Islam.

Ketiga, ketika membincangkan sosok Muawiyah, kita akan menemukan perseteruan dua kelompok—sebagian dari kalangan Sunni dan Syiah—yang begitu tajam. Di satu pihak, mereka begitu mengagungkan Muawiyah, dan di satu sisi ada yang membencinya habis-habisan sembari melontarkan makian yang amat berlebihan. Ironisnya, kebencian sebagian kalangan terhadap Muawiyah benar-benar tak terbendung. Bahkan, pada sebagian buku sejarah yang menjadi rujukan anak-anak sekolah, kita menemukan betapa para penulis ikut terjebak untuk menjuluki Muawiyah dengan juluk-julukan yang amat jauh dari akhlak Islam. Mereka menyebut Muawiyah sebagai orang yang licik, culas, musang berbulu domba dan lainnya.

Dalam buku Sejarah Kebudayaan Islam karangan Prof H Chatibul Umam dan Drs Abidin Nawawi , disebutkan, “Muawiyah bin Abu Sufyan sudah terkenal siasat dan tipu muslihatnya yang licik, dia adalah kepala angkatan perang yang mula-mula mengatur angkatan laut, dan ia pernah dijadikan sebagai amir “Al-Bahar”. Pada paragraf di halaman selanjutnya, penyusun buku ini menambahkan, “Muawiyah bin Abi Sufyan dalam membangun daulah Bani Umayyah menggunakan politik licik dan tipu daya, meskipun pekerjaan itu bertentangan dengan ajaran Islam. Ia tidak gentar melakukan kejahatan. Pembunuhan adalah cara biasa, asal maksud dan tujuannya tercapai.”

Untuk menutup pemaparannya tentang sosok Muawiyah, penyusun buku tersebut menyimpulkan, “Jadi tidak salah kalau ada yang mengatakan bahwa siasat Muawiyah dalam mendirikan daulahnya dengan cara “tipu muslihat, ketajaman pedang dan siasat licik.”  Demikian sebagian penggambaran tentang sosok Muawiyah.

Terlepas dari segala perdebatan itu, khususnya tentang sosok Muawiyah bin Abi Sufyan, hal yang harus kita sepakati adalah para shahabat Nabi semuanya shalih, dan haram bagi kita mencaci maki mereka. Bahkan, banyak di antara mereka yang dipastikan masuk surga, sejak masih hidup. Misalnya, keempat khalifah Rasulullah saw yaitu Abu Bakar, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Selain itu ada juga 10 shahabat yang dijanjikan surga.

Dalam al-Qur’аn, Allah SWT menyanjung para shahabat Nabi tanpa terkecuali. Allah ridha kepada mereka dan mereka juga ridha kepada Allah. “Allah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dengan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya),” (QS al-Fath: 18).

Nah, buku ini hadir untuk mendudukkan masalah sebenarnya. Bagaimana seharusnya kita menyikapi sahabat Nabi saw ini? Lalu, apa saja kiprah Muawiyah bagi Islam dan kaum Muslimin. Bagaimana peran politik pencatat wahyu di masa Nabi ini sebenarnya? Benarkah ia pemberontak atau mujahid?

// // //